Kementerian Agama menggelar Konsolidasi dan Konferensi Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kegiatan berlangsung selama empat hari, 30 Juni hingga 3 Juli 2026. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Kepala PSGA dari PTKI negeri maupun swasta turut ambil bagian dalam agenda nasional tersebut.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Amien Suyitno, dalam pembukaan menegaskan PSGA harus bertransformasi menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, bukan sekadar ruang diskusi akademik. Menurutnya, tantangan sosial saat ini semakin kompleks, mulai dari tingginya angka perceraian, kasus kekerasan seksual, hingga fenomena child-free yang membutuhkan kajian dan pendampingan yang komprehensif.
"Saya ingin PSGA tidak lagi hanya terjebak pada kegiatan seremonial atau sekadar seminar. Dosen dan peneliti di kampus harus mampu menghasilkan karya yang solutif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ini adalah wujud pengabdian nyata, di mana riset harus diintegrasikan dengan pendampingan masyarakat," kata Dirjen pada Rabu (1/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Suyitno juga memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai salah satu pendekatan pendidikan yang menekankan nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran. Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi upaya pencegahan terhadap kekerasan, perundungan, dan berbagai perilaku tidak etis di lingkungan kampus. Sementara itu, Direktur PTKI Kemenag, Sahiron, menilai tingginya partisipasi akademisi dalam konferensi menjadi bukti keseriusan PTKI dalam mengawal isu keadilan dan kesetaraan gender.

"Sebanyak 180 naskah riset masuk dalam konferensi ini. Hal itu menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari para akademisi kita sekaligus menegaskan komitmen PTKI dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan gender," ujar Prof. Sahiron. Lebih jauh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) ini, menegaskan bahwa konsolidasi PSGA merupakan bagian dari upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya kesetaraan gender. Ia menilai sensitivitas gender harus menjadi bagian dari tata kelola dan kebijakan strategis perguruan tinggi. “Program-program kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan harus menjadi bagian dari perencanaan kampus yang dapat dimonitor dan dievaluasi secara berkelanjutan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Kemenag berharap lahir peta jalan (roadmap) yang lebih konkret bagi seluruh PSGA di lingkungan PTKI agar semakin proaktif, responsif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mewujudkan ruang pendidikan yang aman, setara, dan inklusif bagi semua.
Sementara itu Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Aan Jaelani, menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai tuan rumah kegiatan nasional tersebut. Kegiatan berskala nasional yang berlangsung selama empat hari, 30 Juni hingga 3 Juli 2026, dipusatkan di Gedung Siber SBSN UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan diselenggarakan secara hybrid, memadukan partisipasi peserta secara luring maupun daring. Forum ini diikuti oleh perwakilan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di seluruh Indonesia.
Rangkaian kegiatan menghadirkan berbagai agenda strategis, mulai dari konferensi ilmiah, presentasi praktik baik (best practices), Presentasi Nominee Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Award III, diskusi kebijakan, hingga penyusunan rekomendasi nasional dalam memperkuat implementasi pengarusutamaan gender, perlindungan perempuan dan anak, serta sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan Islam. Mengusung tema “Strengthening Gender Justice, Inclusion, and Violence-Free Campuses within the Islamic Higher Education Ecosystem”, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat komitmen PTKI dalam membangun kampus yang aman, inklusif, responsif gender, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, khususnya melalui penguatan sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).
Sebanyak 44 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti proses seleksi PTRG Award III. Setelah melalui tahapan verifikasi administrasi dan penilaian dokumen. Penyelenggaraan PTRG Award III merupakan bagian penting dari rangkaian Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja PSGA PTKI se-Indonesia yang digelar di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Forum nasional ini mempertemukan para pengelola PSGA, akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk berbagi praktik baik (best practices), memperkuat jejaring nasional, serta merumuskan strategi pengembangan pendidikan tinggi Islam yang lebih humanis, adaptif, inklusif, dan berkeadilan.
Hadir dari UIN Raden Mas Said Surakarta dalam kegiatan bergengsi Munas III ini Kepala Pusat Studi Gender dan Anak Dr. Hasanatul Jannah, M. Si dan Ketua Satgas PPKS Dr. Ernawati, M. Psi. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja PSGA PTKI se-Indonesia yang berlangsung pada 30 Juni–3 Juli 2026. Forum ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi organisasi, tetapi juga menghasilkan berbagai rekomendasi strategis sekaligus menetapkan kepengurusan baru Forum PSGA PTKI periode 2026–2029. Melalui hasil Musyawarah Nasional III ini, Forum PSGA PTKI diharapkan semakin mampu menjadi pusat rujukan nasional dalam pengembangan kajian gender, perlindungan perempuan dan anak, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta penguatan kebijakan pendidikan tinggi yang mendukung terwujudnya ekosistem kampus yang aman, setara, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Semangat kolaborasi yang terbangun dalam forum ini juga menjadi langkah nyata mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, penguatan Sustainable Development Goals (SDGs), serta percepatan terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan tinggi yang berkualitas, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Selama empat hari pelaksanaan, forum nasional ini menghasilkan berbagai gagasan, praktik baik, dan rekomendasi strategis yang akan menjadi acuan penguatan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di lingkungan PTKI. Berbagai inovasi yang dipresentasikan menunjukkan semakin kuatnya komitmen perguruan tinggi dalam membangun tata kelola kampus yang menjunjung tinggi kesetaraan gender, perlindungan perempuan dan anak, penghormatan terhadap penyandang disabilitas, serta pencegahan seluruh bentuk kekerasan di lingkungan akademik.
Melalui konsolidasi ini diharapkan lahir sinergi yang semakin kuat antar lembaga, sehingga PSGA mampu menjadi pusat pengembangan ilmu, advokasi, edukasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang responsif terhadap dinamika sosial keagamaan, sekaligus mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, penguatan Sustainable Development Goals (SDGs), serta transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam menuju kampus yang aman, inklusif, humanis, dan berdaya saing global.
Sebelum penutupan Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia, dilaksanakan penganugerahan perguruan tinggi responsive gender (PTRG). Ajang ini menjadi salah satu agenda paling dinantikan dalam forum nasional tersebut karena merupakan bentuk apresiasi kepada perguruan tinggi yang dinilai berhasil mengimplementasikan Pengarusutamaan Gender (PUG), memperkuat sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), serta membangun tata kelola kampus yang humanis, inklusif, dan berpihak pada perlindungan seluruh sivitas akademika.
PSGA UIN Raden Mas Said Surakarta meraih penghargaan sebagai perguruan tinggi responsive gender (PTRG) peringkat madya. PTRG Award III diawali dengan proses seleksi terhadap 44 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh peserta melewati tahapan seleksi administrasi, penilaian dokumen, hingga presentasi praktik baik (best practices) yang menampilkan inovasi kelembagaan PSGA, implementasi PPKS, penguatan layanan perlindungan perempuan dan anak, pendidikan kesetaraan gender, serta pengembangan budaya akademik yang aman dan bebas kekerasan.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kesungguhan perguruan tinggi dalam membangun sistem kelembagaan yang responsif gender melalui kebijakan, layanan, inovasi, serta penguatan budaya akademik yang menjunjung tinggi kesetaraan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap perempuan, anak, penyandang disabilitas, maupun kelompok rentan lainnya. Lebih dari sekadar kompetisi, PTRG Award III menjadi instrumen evaluasi sekaligus motivasi agar setiap PTKI terus meningkatkan kualitas tata kelola kelembagaan, memperkuat implementasi PPKS, serta menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi maupun kekerasan.
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Dr. H. Toto Suharto, S. Ag, M. Ag, mengucapkan rasa syukur dan mengapresiasi atas pencapaian PSGA dalam mewujudkan perguruan tinggi yang responsive gender. Harapannya ke depan UIN Raden Mas Said Surakarta semakin kuat sebagai kampus yang unggul dalam inovasi program, kuat dalam tata kelola kelembagaan, layanan PPKS, jejaring kemitraan perguruan tinggi yang memiliki perspektif gender untuk mewujudkan kampus yang adil, aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. (Haris_HumasLP2M)