LPPM_News – UIN Raden Mas Said Surakarta melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar Workshop Penyusunan Profil Gender Perguruan Tinggi selama dua hari, Rabu–Kamis, 6–7 Mei 2026, bertempat di Aula Sambernyawa Gedung Lembaga. Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta dari unsur pimpinan universitas, lembaga dan unit, fakultas, program studi, dosen, mahasiswa, Satgas PPKS, serta perwakilan pegiat gender dan perguruan tinggi se-Soloraya.
Workshop ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam mewujudkan Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) serta memperkuat implementasi Pengarusutamaan Gender (PUG) di lingkungan kampus.

Dalam laporan kegiatan, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M, Dr. Hasanatul Jannah, S.Ag., M.Si., menyampaikan apresiasi dan selamat datang kepada para narasumber serta seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat langkah UIN Raden Mas Said Surakarta dalam meraih predikat Perguruan Tinggi Responsif Gender.
“Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang kompeten serta mengundang berbagai unsur pegiat gender se-Soloraya dan para Ketua Program Studi di lingkungan UIN. Harapannya, workshop ini dapat menghasilkan dokumen profil gender yang komprehensif dan aplikatif,” ujarnya.
Ketua LP2M, Prof. Dr. Muhammad Latif Fauzi, S.H.I., M.Si., M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa dalam ajang dua tahunan PTRG bagi PTKIN, salah satu indikator utama adalah ketersediaan dokumen profil gender sebagai sumber data dan informasi berbasis eviden.
“Aspek yang dinilai meliputi kebijakan gender, alokasi penelitian dan pengabdian berbasis gender, hingga implementasi program. Di LP2M sendiri telah ada klaster khusus perempuan dan anak, serta program KKN Desa Ramah Perempuan dan Anak. Tantangannya adalah bagaimana mendorong dosen agar semakin banyak melakukan penelitian berorientasi gender,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa isu gender dan kekerasan seksual masih menjadi perhatian publik, terutama ketika melibatkan institusi pendidikan, termasuk pesantren. Karena itu, keberadaan profil gender menjadi instrumen strategis dalam membangun kebijakan yang adil dan responsif.

Workshop menghadirkan tiga narasumber, dua di antaranya mengisi sesi hari pertama, yakni:
Dalam paparannya, Dr. Ida Rosyidah menjelaskan bahwa profil gender merupakan gambaran komprehensif kondisi laki-laki dan perempuan berbasis data terpilah (sex-disaggregated data) untuk mengidentifikasi kesenjangan gender di perguruan tinggi.
Profil gender, menurutnya, berfungsi sebagai:
Ia menegaskan pentingnya penggunaan data terpilah yang mencakup mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta pejabat struktural. Indikator yang dianalisis meliputi rasio mahasiswa laki-laki dan perempuan, akses beasiswa, partisipasi organisasi, jabatan fungsional dosen, penelitian dan publikasi, hingga representasi perempuan dalam jabatan strategis.

Dr. Ida juga memperkenalkan metode Gender Analysis Pathway (GAP) sebagai alat analisis untuk:
Tahapan penyusunan profil gender meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisis gender, hingga penyusunan laporan akademik yang sistematis (pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi, hasil dan pembahasan, serta kesimpulan).
Workshop ini dihadiri oleh 60 peserta yang terdiri dari berbagai unsur, antara lain:
Keterlibatan berbagai unsur ini menunjukkan bahwa penyusunan profil gender bukan hanya tanggung jawab satu unit, melainkan kerja kolaboratif lintas struktur dan pemangku kepentingan.
Melalui workshop ini, UIN Raden Mas Said Surakarta menegaskan komitmennya untuk menjadikan profil gender sebagai instrumen keadilan dan dasar pengambilan kebijakan institusi. Dengan data yang valid dan analisis yang tepat, kampus diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang inklusif, adil, dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penyusunan dokumen Profil Gender UIN Raden Mas Said Surakarta yang komprehensif sebagai pijakan strategis menuju kampus yang setara, inklusif, dan berdaya saing. (Haris_humasLP2M)