(Peserta Workshop Intervensi Psikologi bagi Penyintas Kekerasan Seksual dengan Pendekatan Psikososial, Rabu 26 November 2025)
Surakarta — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Workshop Intervensi Psikologi bagi Penyintas Kekerasan Seksual dengan Pendekatan Psikososial pada Rabu, 26 November 2025, bertempat di Ruang Sambernyawa. Workshop ini diikuti sekitar 60 peserta internal UIN serta 20 peserta eksternal dari perguruan tinggi se-Soloraya.
Kegiatan ini menghadirkan dua psikolog dari HIMPSI Surakarta, yaitu Kanti Handayani, S.Psi., Psikolog dan Kholil Fuadi, S.Psi., Psikolog.
Workshop dibuka oleh MC Ikhda Khullatil Mardliyah, S.Fam., kemudian dilanjutkan dengan Berbagai Ketua LP2M, Prof. Muhammad Latif Fauzi, SHI, M.Si., MA Dalam Berbagainya, beliau menyoroti pentingnya penanganan kekerasan seksual secara menyeluruh, termasuk pada korban dan pelaku. Ia menegaskan bahwa pendamping tidak boleh mengintervensi secara emosional ataupun menyalahkan korban, karena penanganan yang salah justru memperpanjang rantai kekerasan. “Korban yang tidak mendapatkan dukungan tepat berpotensi menjadi pelaku di masa depan. Oleh karena itu, memutus mata rantai kekerasan adalah prioritas bersama,” ujarnya.
Sambutan kedua disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. H. Zainul Abas, S.Ag., M.Ag. Ia menekankan komitmen kampus terhadap isu kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual. Menurutnya, pendekatan psikososial penting diterapkan agar lingkungan kampus tetap sehat. “Satgas PPKS telah bekerja sesuai amanat undang-undang, namun masih memerlukan dukungan lebih, termasuk pendanaan dan tenaga profesional,” ungkapnya.
Sesi pertama, Kanti Handayani menjelaskan konsep pendampingan psikologis bagi penyintas dengan pendekatan psikososial. Ia menekankan pentingnya memahami kondisi korban tanpa menghakimi, serta memvalidasi pengalaman mereka. Menurutnya, pelaku kekerasan seksual kerap berasal dari lingkungan terdekat korban, sehingga pendamping harus peka terhadap dinamika relasi kuasa.
Ia juga menegaskan bahwa pemulihan harus dilakukan melalui layanan multisektor, meliputi pendampingan psikologis, layanan medis, dukungan hukum, dan perlindungan sosial. “Pendamping bukan juru selamat. Tugas utama kita adalah menciptakan ruang aman dan menjadi jembatan menuju layanan profesional,” jelasnya.
Pada sesi kedua, Kholil Fuadi memaparkan faktor risiko psikososial lingkungan yang dapat memperburuk trauma korban, seperti stigma sosial, minimnya dukungan keluarga, ketidakpercayaan pada sistem hukum, serta media yang sering memojokkan korban. Ia juga menyoroti maraknya kekerasan seksual berbasis digital, termasuk revenge porn, deepfake porn, dan grooming online.
Kholil menegaskan pentingnya pendekatan Trauma-Informed Care dalam pemulihan penyintas, yakni dengan menjamin keamanan, transparansi, pemberdayaan korban, dan kerja kolaboratif antarlembaga. “Relawan harus menjadi penghubung, bukan penyelamat. Kuncinya adalah mendengarkan tanpa menghakimi dan memastikan korban mendapatkan akses layanan profesional,” tegasnya.
selanjutnya sesi diskusi, para peserta aktif menyampaikan berbagai pandangan dan pengalaman terkait penerapan kurikulum responsif gender di lingkungan perguruan tinggi. Sejumlah isu utama mengemuka, mulai dari tantangan integrasi perspektif gender dalam mata kuliah, kebutuhan peningkatan kompetensi dosen, hingga pentingnya dukungan kelembagaan untuk memastikan keberlanjutan program.
Peserta juga menyoroti perlunya penyusunan panduan teknis yang jelas agar implementasi kurikulum responsif gender dapat dijalankan secara terstruktur di setiap program studi. Selain itu, muncul rekomendasi penguatan jejaring antarunit, seperti UPT, fakultas, dan lembaga terkait, untuk memperluas praktik baik yang sudah berjalan.
Diskusi berlangsung dinamis dan menghasilkan beberapa poin strategis untuk ditindaklanjuti, antara lain penyelarasan kurikulum, penguatan literasi gender bagi tenaga pendidik, serta peningkatan koordinasi dalam monitoring dan evaluasi program. Sesi ini menegaskan komitmen peserta untuk mendorong terciptanya lingkungan akademik yang lebih inklusif dan sensitif terhadap isu gender.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kapasitas perguruan tinggi dalam menangani kekerasan seksual secara profesional, humanis, dan berkelanjutan. LP2M UIN Raden Mas Said Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperluas edukasi, meningkatkan kolaborasi, dan memastikan keberpihakan kepada penyintas menjadi prioritas utama.
(Penulis: Inayah / MG 8)